Langsung ke konten utama
21 Desember 2015.
Kisah Nyata. (Nama Pemeran disamarkan)
Pengalaman pertama melihat proses persalinan melalui SC. 


Hayalan berakhir Kenangan
(Calon Perawat)



            “Kenapa disaat terakhir seperti ini sih masuknya”, ucapku dalam hati sambil memandang dr. Muda yang berdiri tepat disampingku.
Dokter muda yang bernama Kak Elriz memiliki ciri-ciri tinggi badan kurang lebih 183 cm, berwajah ganteng, katanya sih mirip seperti Siwon SUJU. Tapi bagi aku dokter ini jauh lebih ganteng. Hehe 
Bodynya seperti model, berkulit putih dan bersih, berwajah korea, menggunakan kaca mata dan tampak cerdas dimataku. Bagiku semua perfect. Itulah kenapa aku menjadi ngefens sama dr muda ini. Sayangnya hari ini adalah hari terakhir aku bertugas diruang yang sama dan pindah keruang selanjutnya.
“Ella, besok kamu diruangan mana?’’, Tanya Ria temanku.
“Di, Nifas lantai 3”, jawabku.
“Oh ya?, sama dong dengan aku”, jawabnya lagi.
Aku tersenyum dan bergegas menuju pintu keluar dan pulang kerumah.
……….
Kesesokan harinya.
Seusai shalat magrib, aku bergegas menuju ruangan tempat dimana kujalankan tugas praktik yang saat ini kujalani. Yaitu ruang nifas ruangan para ibu yang telah bersalin bersama bayinya. Secara perlahan, ku langkahkan kakiku menelusuri jalan, dengan berharap bisa berjumpa dengannya lagi secara tidak sengaja.
“Jika aku bertemu lagi dengannya, berarti kita memang dijodohkan untuk bertemu lagi” kataku dalam hati.
“Sedikit lagi aku akan melalui ruangan dimana dia bertugas. Mungkinkah kita akan bertemu lagi ?”, kataku dalam hati.
Saat aku tiba didepan ruangannya, ternyata tidak ada satu orangpun yang tampak dari pintu yang terbuat dari kaca itu.
“Hm, pasti mereka sedang berada didalam ruangan yang tertutup sana. Susahlah jika ingin melihat dari luar sini” kataku lagi.
Akupun menghela nafas dan berbelok kearah kanan, menaiki tangga menuju ruangannku. Sambil mengingat perjumpaan kami hari ini yang tidak disengaja. Pertama, saat aku akan mengantar pasien untuk dilakukan USG. Sebenarnya selain ingin mengantar, niat lainnya yaitu ingin melihatnya juga. (Hehehe)
“Dek mahasiswa, tolong yang shift siang ini untuk mengantar pasien kamar empat bed 3 keruangan VK untuk dilakukan USG ya?”, kata bidan yang berjaga saat itu.
Aku yang sedang duduk bersama teman-teman langsung mengingat satu hal. Bahwa ruangan yang disebutkan itu adalah ruangan dimana dia bertugas. Akupun secara bergegas berdiri dan mengarah ke mahasiswa yang diperintahkan tadi. Ternyata mahasiswa yang ditunjuk itu tidak mengetahui letak ruangan yang dimaksudkan. Karena hari ini adalah tugas pertama kali ia di rumah sakit ini. Nama nya Dina dari kampus yang berbeda denganku.
“Yuk kita ngantarin sama-sama’’, kata Dina kepadaku.
Dengan tenang, akupun mengiyakan dan menuju keruangan ibu yang akan dilakukakn USG yang bernama ibu Mariani, sambil mendorong kursi roda untuk mengantarkan ibu tersebut.
Dengan perlahan aku mendekatkan kursi roda itu ke tempat tidur ibunya. Akupun kaget saat melihat ternyata disamping ibu Mariani, telah berdiri 2 dokter muda yang sementara mengkaji pasien tersebut. Salah satunya adalah sosok yang ingin aku lihat saat diruang VK nanti. Rasanya jantungku ini mau terlepas dari tempatnya. Seusai pengkajian tersebut, kamipun mengantar ibu Mariani ke ruangan VK. Saat menaiki lift, ternyata Lift yang akan kami naiki harus di umpan dengan cara turun ke lantai 2 lebih dulu dan menekan tombol lift dari bawa yaitu lantai 2. Jika tidak seperti itu, maka liftnya tidak akan terbuka. Akupun segera menuruni anak tangga dan mencoba membuka lift dari lantai 2. “Untung saja hanya turun satu lantai, kalau lebih dari itu bisa bengkak juga ni kaki”, kataku. Tinggal beberapa anak tangga lagi yang harus dituruni, tapi ternyata liftnya sudah terbuka. Secara reflek, akupun berlari kencang dan masuk kedalam lift. Tingkahku itu ternyata dilihat oleh kedua dokter muda tersebut. Akupun jadi malu jika mengingat tingkahku yang lumayan aneh kala itu.
Pertemuan kedua yang tidak disengaja yaitu setelah shalat ashar aku berjumpa dengannya saat ia mengarah keluar dari ruangannya. Dari balik pintu yang terbuat dari kaca itu, aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas.
Lamunanku terhenti saat memasuki ruangan tempatku bertugas.
“Oke, saatnya bertugas kembali”, kataku.
Akupun duduk dikursi sambil menunggu tugas yang akan dikerjakan.
“Dek mahasiswa, tolong mengambil inkubator ya. Untuk mengambil bayi diruang IBS”, kata Bu Bidan yang berjaga saat itu.
Saat itu, aku hanya duduk dan mendengar perkataan ibu bidan. Karena inkubatornya telah di ambil oleh salah satu teman yang bertugas denganku yang bernama Danil.
“Siapa yang ingin ikut ke IBS”, Tanya ibu bidan tersebut.
“Saya bu’’, jawabku dengan keras.
Akupun menghampiri inkubator yang sementara di dorong oleh Danil dan membantunya.
Aku, Danil dan Bu Bidan yang bertugas,  berjalan bersama-sama menuju ruang IBS yang dimaksud. Dengan tenang kami mendorong incubator tersebut menuju ke ruangan IBS.
Setelah berjalan beberapa menit, kamipun sampai keruang IBS. Setelah pintu terbuka kami mendorong masuk incubator tersebut. Saat masuk kedalam ruangan tersebut, aku kaget dan rasanya ingin pingsan. Ternyata didalam ada dokter muda yang ingin sekali kujumpai kembali. Rasanya senang sekali, bisa melihat dia kala itu. Aku tidak menyangka bisa berjumpa lagi.
Setelah menyimpan incubator tersebut, kamipun keluar.
“Ayo, ganti baju’’, kata ibu bidan tersebut kepada aku dan Danil.
Aku mengkerutkan dahi karena bingung  dengan perkataan ibu tersebut.
“Maksudnya bu, ganti baju untuk apa?”, Tanyaku kepada ibu bidan tersebut.
“Kalian tidak mau, masuk kedalam melihat operasinya?”, jawab bu bidan dengan pertanyaan yang dilemparkan kepada kami.
“Mau bu, mau”, jawabku.
Tidak disangka ternyata kami di ajak masuk kedalam untuk melihat proses operasinya. Kali ini aku benar-benar merasa sesak karena sangat gembira dengan kesempatan yang langka tersebut. Bagi para mahasiswa seperti kami, susah mendapat kesempatan masuk keruang operasi. Ini pertama kalinya aku masuk ke ruang operasi untuk melihat langsung proses operasi tersebut. Ditambah lagi, bersama dokter muda itu. Rasanya berlipat-lipat kebahagiaan yang dirasakan.
“Apakah ini kenyataan?”, tanyaku dalam hati karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Kamipun bergegas mengganti pakain dan memakai sandal yang telah disiapkan untuk masuk kedalam ruang operasi. Rasa tegang dan bahagia bercampur aduk menjadi satu.
Kemudian kamipun bersiap-siap dan menggunakan masker serta hanscond untuk melindungi diri.
Setelah persiapan selesai, kamipun bergegas masuk kedalam tindakan operasi.
Tampak jelas seorang ibu yang sedang berbaring dibrankar dan alat-alat yang akan digunakan dalam operasi.
Aku sangat takjub melihat semua itu dan tidak berhenti tersenyum.
“Untungnya semua diwajibkan menggunakan masker. Kalau tidak, mungkin aku dikirain orang gila ni karena tidak berhenti tersenyum”, kataku dalam hati.
Dibalik kaca, tampak dokter muda itu yang sedang mencuci tangan yang berada diruangan alat operasi.
“Oh my God!. Kuatkan dirimu El”, kataku dalam hati.
Aku melirik terus kearah dokter muda tersebut sambil tersenyum.
Dokter, perawat dan bidan telah selesai menyelesaikan semua persiapan sebelum operasi.
Para dokter berdiri dekat pasien, perawat duduk di bangku untuk mencatat proses persalinan dan bidan siap untuk mengambil bayi setelah lahir nantinya.
Operasinya pun siap dilakukan. Dengan bacaan basmalah, dokter spesialis yaitu dr.Mira melakukan operasi tersebut.
Operasi berjalan dengan santai dan rapi. Tampak semua dokter bekerja sama dengan baik.
Beberapa saat kemudian, janin dikeluarkan dari perut ibunya. Bayi tampak kebiruan, wajahnya memerah dan seluruh tubuhnya penuh dengan lendir.
Dengan keras bayi itupun menangis. “Oe oe, suara tangis bayi itupun menghidupkan rungan yang tadinya sepi dan membuat semua perasaan menjadi legah.
“ Anak laki-laki”, kata bu dokter.
Setelah pemotongan tali pusat, bayinya pun di gendong oleh ibu bidan dan segera dipindahkan keruangan lain untuk dilakukan tindakan penghangatan dan suction. Akupun mengikuti bidan tersebut. Dengan bergegas, bayi di baringkan ke brangkar yang telah disiapkan dengan segala peralatan. Bayipun dikeringkan dan dihangatkan sambil dilakukan suction. Di awali dari mulut lalu kemudian ke hidung. Beberapa menit berlalu, bayi tersebut tampak bersih,. Warna kulit menjadi merah dan tidak berlendir lagi. Kemudian bayi disuntikkan Vitka dan diberi obat mata. Selanjutnya bayi di bedong. Setelah selesai kamipun membereskan semua alat-alat dan bahan yang digunakan. Sambil menunggu CM yang sedang diisi dokter, aku dan Danil masuk keruang tindakan operasi kembali karena masih merasa penasaran dengan tindakan selanjutnya.
Tampak dokter muda tersebut sedang membantu dalam  proses penjahitan. Setelah beberapa waktu berlalu, penjahitannyapun telah selesai. Kami dipanggil kembali oleh ibu bidan untuk kembali keruangan kami.
Alhamdulillah, operasinya telah selesai. Aku, Danil dan Ibu bidan tersebut masuk keruang ganti untuk mengganti pakaian. Danil masuk keruang ganti pria sedangkan aku beersama ibu bidan masuk keruang ganti wanita. Setelah semua selesai, kami semua kembali keruang nifas dan membawa bayi tersebut yang telah tidur nyaman didalam incubator.
“ Pengalaman pertama operasi ini tidak akan ku lupa dan akan selalu kukenang. Disamping itu, pengalaman ini kulalui bersama dokter muda tersebut. Dia adalah dokter muda penyemangatku dalam menjalani hariku dirumah sakit. Karena semenjak aku melihatnya, aku merasa senang dan lebih bersemangat”, ucapku dalam hati (bersikap alay dikit tidak apa-apalah, hehe).
Setelah masuk keruang nifas, aku bersama Danil menuju ruang perawat dan beristirahat disana dan berbagi cerita kepada teman-teman mengenai operasi yang telah aku ikuti.
“ella, kamu dari mana?’’, Tanya  mbak Ani yang dari tadi mencariku.
“dari ruang operasi mbak’’, jawabku.
“ Wah, kamu keruang operasi? Pantas saja dari tadi kamu tidak kelihatan. Hm, pengen juga ni masuk keruang operasi”, kata mbak Ani kepadaku. Kulihat semua teman-teman merasa pengen juga masuk keruang operasi tersebut. Aku hanya diam dan menyembunyuikan perasaannku bahwa sebenarnya aku juga tidak menyangka bahwa semua ini akan aku alami. Ditambah lagi bersama dokter muda tersebut.
Aku harus mengakui bahwa itu semua hanya emosi sesaat yang mungkin akan segera berakhir. Namun yang aku tahu saat ini, bahwa dia adalah dokter muda yang pertama kali membuat aku ingin bertemu terus setiap saat, dan berharap bisa bertemu baik sengaja maupun tidak sengaja.
Gawat ni, aku mungkin udah overdosis karena rasa sukaku sama dokter muda Rizki. Hehe.
Yah, semoga bisa bertemu lagi dengan dia. Di hari-hari berikutnya. Sebagai teman atau mungkin sahabat atau mungkin hanya sekedar kenangan J

21 Desember 2015

E.A
Perawat Muslimah

Komentar